Ayatayat al-Quran banyak membahas dan menjelaskan tentang kedudukan orang yang beriman dan berilmu di dalam Islam. Peranan ilmu dalam Islam sangat penting sekali. Karena tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku mukmin, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannnya.
Orangyang memiliki ilmu memiliki keutamaan akan tinggi drajatnya baik di mata masyarakat maupun di mata Allah SWT. Allah SWT telah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman!
Selainitu, maksud dari orang-orang yang berilmu adalah mereka yang memanfaatkan serta mengamalkan ilmunya dengan benar. Menurut Abu Hayyan, ayat di atas memberi isyarat, kesempurnaan manusia itu terbatasi hanya pada dua maksud, yakni ilmu dan amal. Jadi, antara ilmu dan perbuatan itu harus sesuai. Sebab, puncaknya ilmu itu adalah amal. Ketika ingin amal yang diperbuat bisa bermanfaat maka, harus disertai dengan ilmu.
KEDUDUKANORANG BERILMU DALAM ALQURAN. Konsep awal ilmu. Ilmu atau dalam bahasa Arab disebut dengan 'ilm yang bermakna pengetahuan merupakan derivasi dari kata kerja 'alima yang bermakna mengetahui.7 Secara etimologi, ilmu berasal dari akar kata 'ain-lam-mim yang diambil dari perkataan 'ala>mah, yaitu ma'rifah (pengenalan), syu'u>r
Makhulberkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Keutamaan seorang yang berilmu dari seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas orang-orang yang paling rendah diantara kalian, kemudian beliau membaca surat Fathir ayat 28, "innama yakhsyallaha min 'ibadihil 'ulama`" (bahwa yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya adalah para ulama). Sesungguhnya Allah, para malaikat, penduduk langit dan bumi, serta ikan di lautan (selalu) bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia'."
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. al-Mujadilah: 11) Benar-benar mulia kedudukan orang yang berilmu dalam Islam. Bagi orang berilmu, Allah juga telah mempersiapkan surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw: "Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR.
Kedudukanorang yang berilmu, orang yang taat berbeda dengan mereka yang tidak berilmu (bodoh) dan berada dalam kemaksiatan. Ayat di atas menyiratkan bahwa orang yang menghabiskan waktunya untuk berbuat taat kepada Allah dengan berbagai bentuk ketaatann didasarkan pada ilmu tidak sama dengan mereka yang hanya menuruti hawa nafsunya.
Sampaidi sini kita pahami bahwa kedudukan orang yang berilmu sangatlah mulia, kemuliaan tersebut tidak hanya mereka dapatkan ketika di dunia tatapi juga di akhirat, tetapi dengan catatan mereka mengaplikasikan ilmunya. Al-Syaukani menjelaskan, ayat ini secara umum untuk setiap orang beriman dan orang yang berilmu agama, tidak ada pengkhususan
Kaitandengan ayat ini, Ibnu 'Abbas menambahkan, "Orang-orang yang berilmu memiliki kedudukan tujuh ratus derajat di atas orang-orang mukmin.". Sebab, keunggulan mereka salah satunya karena takut kepada Allah, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu (ulama), (Surat Fathir ayat 28). Tak
DaftarIsi [ Sebunyikan] 1 Orang yang berilmu Pasti diangkat derajatnya oleh Allah. 1.1 Iman itu terkadang Turun dan Naik. 1.2 Naik turunnya Iaman dalam pebngertian al-qur'an. 1.2.1 Penjelasan ayat 53 Surat Yusup. 1.2.2 Keadaan Iman. 1.3 Iman Para Rasulullah adalah Teladan. 1.4 Berjuang Menegakkan Aturan Allah.
Baiklahpemirsa pengunjung blog terjemah kitab Durratun Nashihin yang saya muliakan, kali ini saya akan membahas tentang kedudukan orang yang berilmu, banyak sekali hadits yang berkenaan dengan keutamaan orang yang berilmu salah satunya adalah sesuai sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi" fadllul 'alim 'alal 'abid ka fadllii 'ala adnaakum" yang artinya: " keutamaan Orang alim atas seorang ahli ibadah seperti keutamaan saya atas seseorang yang paling rendah diantara kamu"
29votes, 77 comments. Ulama jaman dahulu itu membuat persatuan, sekarang malah gontok gontokan. jaman dulu ulama itu ilmu tinggi namun prakteknya &
Danapabila dikatakan, "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11). Keempat, Orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Dalam surat Az-zumar ayat 9 Allah berfirman :
Orangyang berilmu akan takut kepada Allah. Dengan demikian, ia akan merasakan bahwa semua gerak-geriknya akan selalu diawasi oleh Allah, sehingga dia terdorong untuk melakukan hal-hal yang akan mendatangkan rida-Nya, dan menjauhi segala perbuatan yang akan mengundang siksa-Nya.
Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.". ( Q.S 25 : 73 ) " Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur'an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang
c6w88Yd. Banyak ayat-ayat al-Quran yang membahas dan menjelaskan tentang kedudukan orang yang beriman dan kedudukan orang yang berilmu di dalam Islam. Peranan ilmu dalam Islam sangat penting sekali. Karena tanpa ilmu, maka seorang yang mengaku mukmin, tidak akan sempurna bahkan tidak benar dalam keimanannnya. Seorang muslim wajib mempunyai ilmu untuk mengenal berbagai pengetahuan tentang Islam baik itu menyangkut aqidah, adab, ibadah, akhlak, muamalah, dan sebagainya. Dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman ilmu yang benar, maka diharapkan pengamalannya akan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujadalah [58] ayat 11 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tafsir Singkat al-Jalalain Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, “Berlapang-lapanglah berluas-luaslah dalam majelis” yaitu majelis tempat Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-majlis dalam bentuk mufrad maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian di surga nanti. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kalian” untuk melakukan shalat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal kebaikan maka berdirilah menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian karena ketaatannya dalam hal tersebut dan Dia meninggikan pula orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat di surga nanti. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Penjelasan Global Sebab turunnya ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil bin Hibban, ia berkata, “Pada suatu hari, yaitu hari jumat, Rasulullah SAW. berada di Suffah mengadakan pertemuan di suatu tempat yang sempit, dengan maksud menghormati pahlawan-pahlawan perang Badar yang terdiri dari orang-orang Muhajirin dan Anshar. Beberapa orang pahlawan perang Badar itu terlambat datang di antaranya Sabit bin Qais. Para pahlawan Badar itu berdiri di luar yang kelihatan oleh Rasulullah mereka mengucapkan salam, “Assalamu’ alaikum Ayyuhan Nabiyyu warahatullahi wabarakatuh”, Nabi SAW. menjawab salam, kemudian mereka mengucapkan salam pula kepada orang-orang yang hadir lebih dahulu dan dijawab pula oleh mereka. Para pahlawan Badar itu tetap berdiri, menunggu tempat yang disediakan bagi mereka, tetapi tidak ada yang menyediakannya. Melihat itu Rasulullah SAW. merasa kecewa, lalu mengatakan, “berdirilah, berdirilah”. Berapa orang yang ada di sekitar itu berdiri, tetapi dengan rasa enggan yang terlihat di wajah mereka. Maka orang-orang munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela Nabi SAW. mereka berkata, “Demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang dahulu datang dengan maksud memperoleh tempat duduk di dekatnya, tetapi di suruh berdiri agar tempat itu diberikan kepada orang yang terlambat datang.” Maka turunlah ayat ini. Dari ayat ini dapat dipahami Para sahabat berlomba-lomba mencari tempat dekat Rasulullah agar mudah mendengar perkataan beliau yang beliau sampaikan kepada mereka. Perintah memberikan tempat kepada orang yang baru datang, adalah merupakan anjuran, sekiranya hal ini mungkin dilakukan, untuk menimbulkan rasa persahabatan antara sesama yang hadir. Sesungguhnya tiap-tiap orang yang memberikan kelapangan kepada hamba Allah dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memberi kelapangan pula kepadanya di dunia dan di akhirat nanti. Memberi kelapangan kepada sesama muslim dalam pergaulan dan usaha mencari kebaikan, berusaha menyenangkan hati saudara-saudaranya, memberi pertolongan dan sebagainya termasuk yang dianjurkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda “Allah selalu menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” HR. Bukhari dan Muslim Ayat ini menerangkan bahwa jika kamu disuruh Rasulullah SAW. berdiri untuk memberikan kesempatan kepada orang tertentu agar ia dapat duduk atau kamu disuruh pergi dahulu hendaknya kamu berdiri atau pergi, karena ia ingin memberikan penghormatan kepada orang-orang itu atau karena ia ingin menyendiri untuk memikirkan urusan-urusan agama, atau melaksanakan tugas-tugas yang perlu diselesaikan dengan segera. Berdasarkan ayat ini para ulama berpendapat bahwa orang-orang yang hadir dalam suatu majelis hendaklah mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam majelis itu atau mematuhi perintah orang-orang yang mengatur majelis itu. Jika dipelajari maksud ayat di atas ada suatu ketetapan yang ditentukan ayat ini, yaitu agar orang-orang menghadiri suatu majelis baik yang datang pada waktunya atau yang terlambat itu, selalu menjaga suasana yang baik, penuh persaudaraan dan saling bertenggang rasa dalam majelis itu. Bagi yang terdahulu datang hendaklah memenuhi tempat yang agak di muka, sehingga orang yang datang kemudian tidak perlu melangkahi atau mengganggu orang yang telah terdahulu hadir dan bagi orang yang terlambat datang hendaklah merasa rela dengan keadaan yang ditemuinya, seperti tidak dapat tempat duduk. Inilah yang dimaksud dengan sabda Nabi SAW. لا يقم الرجل من مجلسه ولكن تفسحوا وتوسعوا Janganlah seseorang menyuruh berdiri, dari tempat-tempat duduk temannya yang lain, tetapi hendaklah ia mengatakan lapangkanlah atau geserlah sedikit. HR. Bukhari Muslim dll. Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman, yang taat dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya, berusaha menciptakan suasana damai, aman dan tenteram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang yang berilmu yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah. Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling tinggi di sisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu dan ilmunya itu diamalkan sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Kemudian Allah SWT menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui semua yang dilakukan manusia, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya, siapa yang durhaka kepada-Nya. Dia akan memberi balasan yang adil, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya. Perbuatan baik akan dibalas dengan surga dan perbuatan jahat dan terlarang akan dibalas dengan azab neraka. Sedangkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan sebagai berikut Allah Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Maksudnya, janganlah kalian berkeyakinan bahwa jika salah seorang di antara kalian memberi kelapangan kepada saudaranya, baik yang datang maupun yang akan pergi lalu dia keluar, maka akan mengurangi hak-nya. Bahkan hal itu merupakan ketinggian dan perolehan martabat di sisi Allah. Dan Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan hal tersebut, bahkan Dia akan memberikan balasan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya orang yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan akan memasyhurkan namanya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abuth Thufail Amir bin Watsilah, bahwa Nafi’ bin Abdil Harits pernah bertemu dengan Umar bin al-Khaththab di Asafan. Umar mengangkatnya menjadi pemimpin Makkah lalu Umar berkata kepadanya “Siapakah yang engkau angkat sebagai khalifah atas penduduk lembah?” la menjawab “Yang aku angkat sebagai khalifah atas mereka adalah Ibnu Abzi, salah seorang budak kami yang telah merdeka.” Maka Umar bertanya “Benar engkau telah mengangkat seorang mantan budak sebagai pemimpin mereka?” Dia pun berkata “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya dia adalah seorang yang ahli membaca Kitabullah al-Qur-an, memahami ilmu fara-idh dan pandai berkisah.” Lalu Umar berkata “Sesungguhnya Nabi kalian telah bersabda “Sesungguhnya Allah mengangkat suatu kaum karena Kitab ini al-Qur-an dan merendahkan dengannya sebagian lainnya.” *** Referensi Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir Program Harf The Holy Quran
JawabanIlmu adalah suatu hal yg sangat mulia. Karena dgn ilmu derajat kita ditinggikan, dan dgn ilmu juga kita mengetahui mana yg benar dan mana yg batil, dan yg paling mulia dari itu semua adalah Allah mudah kan kita untuk masuk kedalam surga nya sebagaimana Rasulullah bersabdaمن سلك طريقا يلتمس فيه علما سهلا الله له به طريقا الى الجنةyg artinya Barangsiapa yg menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan bagiannya jalan menuju tentang kedudukan seorang yg berilmu, tentu sangatlah mulia karena ia dgn ilmu tersebut yg telah Allah karuniai, memberi pengarahan Kpd manusia untuk menempuh jalan yg lurus dan menjauhi keburukan dalam agama Islam yg ber'akidah singkat. Semoga membantu.
Kesabaran dalam Menuntut Ilmu Ilustrasi/Hidayatuna Yogyakarta – Islam sangat menghargai orang yang mencari ilmu karena Allah pun akan meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu. Allah Swt. berfirman dalam Alquranيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” al-Mujadilah ayat 11Benar-benar mulia kedudukan orang yang berilmu dalam Islam. Bagi orang berilmu, Allah juga telah mempersiapkan surga. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. MuslimSemoga semangat mencari ilmu yang kita miliki mewarisi para Sahabat wanita di masa Nabi, sebagaimana dikutip dari lama status Facebook Kiai Ma’ruf Khozin dalam hadis berikut iniﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺳﻌﻴﺪ اﻟﺨﺪﺭﻱ ﻗﺎﻟﺖ اﻟﻨﺴﺎء ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻏﻠﺒﻨﺎ ﻋﻠﻴﻚ اﻟﺮﺟﺎﻝ، ﻓﺎﺟﻌﻞ ﻟﻨﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻚ، ﻓﻮﻋﺪﻫﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻟﻘﻴﻬﻦ ﻓﻴﻪ، ﻓﻮﻋﻈﻬﻦ ﻭﺃﻣﺮﻫﻦDari Abu Sa’id Al Khudri bahwa para wanita bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam“Kami dikalahkan oleh laki-laki terhadapmu. Jadikanlah 1 hari anda untuk kami”, kemudian Nabi menjadikan 1 hari untuk para wanita, Nabi memberi wejangan dan perintah kepada sahabat perempuan.” HR. Bukhariﻭﻗﺎﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻧﻌﻢ النساء ﻧﺴﺎء اﻷﻧﺼﺎﺭ ﻟﻢ ﻳﻤﻨﻌﻬﻦ اﻟﺤﻴﺎء ﺃﻥ ﻳﺘﻔﻘﻬﻦ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ»Aisyh berkata “Sebaik-baik perempuan adalah perempuan Sahabat Ansor. Mereka tidak malu belajar agama.” Sahih Bukhari secara muallaqBegitu mulianya kedudukan orang berilmu sehingga umat Muslim pun sangat dianjurkan untuk mencari ilmu dan mengamalkannya dalam demikian kedudukan Anda bukan sekadar mulia di hadapan Sang pencipta, akan tetapi juga di mata sosial atau manusia lainnya. Wallahu’alam. []
rizkahanapratiiwi rizkahanapratiiwi B. Arab Sekolah Menengah Atas terjawab Iklan Iklan Syubbana Syubbana 1 Allah membezakan dan mengangkat darjat orang yang berilmu2 Orang yang berilmu sentiasa dijadikan rujukan3 Ilmu satu-satunya warisan Nabi4 Beramal dengan cara betul dan ditakuti syaitan5 Orang yang berilmu mendapat kebaikan Iklan Iklan adinda237 adinda237 1. akan ditingkatkan derajatnya2. niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu Iklan Iklan Pertanyaan baru di B. Arab pertanyaan tentang zakat maalmohon bantuannya nya kak 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan fiqh? dan apa itu "fiqh ibadah" secara lughat dan istilah serta pembagiannya! dan juga pembagian dalam ibadah it … u sendiri!2. Jelaskan mengapa orang yang berpuasa tidak diperbolehkan jima' disiang hari pada saat melaksanakan ibadah puasa dan apa dasarnya? seandainya terjadi jima' bagi orang yang berpuasa, bagaimana cara membayar kifaratnya?3. kapan kewajiban membayar zakat emas dan perak yang dimiliki seseorang? jelaskan!4. kapan bermalam di Mina dan Muzdalifah dapat dilaksanakan pada ibadah haji? jelaskan! dan apa dalilnya?5. apa yang dimaksud dengan Dam dalam pelaksanaan ibadah haji? sebutkan pembagiannya? Kisah perjalanan hidup nabi 5. bagaimana penyelesaian sengketa bisnis berdasarkan prinsip-prinsip fiqh dan ushul fiqh dapat di implementasikan dalam konteks ekonomi dan bisnis in … ternasional? 2. sejauh mana sistem ekonomi islam dapat mengatasi tantangan dan kompleksitas ekonomi global moderen? Sebelumnya Berikutnya Iklan
kedudukan orang yang berilmu